7 Film Horor Korea Terbaik Untuk Anda Yang Bernyali

Galuh Mustika View: 287

Setelah sempat padam dalam beberapa tahun terakhir, trend film horor di Indonesia kembali meningkat. Mulai dari produksi barat seperti Annabelle: Creation dan It, hingga karya lokal semisal Pengabdi Setan dan Mereka Yang Tak Terlihat, ada begitu banyak film horor yang beredar di bioskop dan meraih kesuksesan luar biasa.

Berbicara tentang sajian mencekam, tentu banyak pula yang sudah mengakui kengerian film horor Asia. Di kalangan penggemar film Indonesia, Thailand dan Jepang adalah produsen sinema horor yang telah diakui. Namun tahukah Anda? Industri perfilman Korea yang biasanya dikenal penuh akan tontonan komedi romantis, ternyata juga menyimpan karya-karya horor yang tak kalah bagusnya. Beberapa di antara film itu bahkan sudah mendapat pengakuan internasional. Seperti apa contohnya?

Ketujuh film berikut memiliki sisi unik dan bobot cerita yang tidak bermodalkan jump scare dan nuansa seram saja.

7. Memento Mori (1999)

Memento Mori

Premise cerita:
Shi-eun dan Hyo-shin adalah sepasang sahabat yang diasingkan di sekolah karena menjalin hubungan sesama jenis. Tak kuat menghadapi tekanan, Shi-eun kemudian berupaya menjauhi Hyo-shin. Karena hal itu, Hyo-shin yang sebelumnya telah mengalami depresi karena diperkosa oleh seorang guru menjadi semakin stres. Ia pun akhirnya mengakhiri hidup dengan melompat dari atap sekolahnya. Tak lama kemudian, teror arwah penasaran Hyo-shin mulai menyebar dan mengincar mereka yang pernah menyiksanya.


Film lawas yang diarahkan oleh 2 sutradara ini merupakan seri kedua dalam trilogi Whispering Coridors. Memento Mori bisa dikatakan nekat karena berani memuat unsur LGBT, sesuatu yang masih tabu di kalangan masyarakat Korea Selatan, terutama pada era film ini dirilis.

Menariknya, terobosan itu bukanlah satu-satunya hal yang membuat film horor Korea ini menonjol. Meski membawakan premise yang cukup umum, Memento Mori berhasil merefleksikan nilai-nilai yang ingin dihadirkannya dengan baik. Film ini tidak hanya dipenuhi unsur mencekam dan mengekspos kerasnya realita kehidupan pelajar Korea Selatan, tapi juga mengungkap kejamnya tekanan sosial yang dialami oleh kelompok minoritas, terutama ketika aksi bullying yang mereka alami seringkali tidak ditanggapi serius.


6. Phone (2002)

Phone film horor Korea

Premise cerita:
Kengerian Phone pertama kali bermula setelah seorang jurnalis bernama Ji-won menulis artikel tentang fenomena pedofilia. Tak lama setelah mempublikasikan karyanya, ia menerima panggilan misterius yang bernada mengancam. Panggilan itu terus menghantui si jurnalis bahkan setelah ia mengganti nomor teleponnya.

Suatu saat, panggilan itu diterima oleh seorang anak yang kemudian menjerit dan berperilaku aneh. Setelah ditelusuri, nomor telepon yang menjadi sumber panggilan tersebut sudah beberapa kali berganti kepemilikan. Setiap orang yang memiliki nomor tersebut selalu tewas secara misterius. Teka-teki ini kemudian mulai menemui titik terang setelah Ji-won berhasil menguak kasus perselingkuhan berujung maut yang melibatkan sahabatnya sendiri.

Kesan menakutkan dari sebuah panggilan misterius adalah tema yang banyak digunakan di film-film horor Asia pada awal 2000-an. Selain One Missed Call, film yang berhasil memaksimalkan unsur tersebut adalah Phone. Karya Ahn Byeong-ki yang mengandalkan nama Ha Ji-won (Memories of Bali, Secret Garden) ini memang tidak terlalu dikenal di mancanegara, tapi sudah berhasil menjadi salah satu film horor legendaris di negara asalnya. Alasannya tak lain adalah karena akting luar biasa para pemain dan teknik editing yang efektif.


5. Thirst (2009)

Thirst film horor Korea

Premise cerita:
Diadaptasi dari novel Prancis klasik karangan Emile Zola, film yang dibintangi Song Kang-ho (Snowpiercer, A Taxi Driver) ini mengisahkan lika-liku seorang pendeta Katolik yang berubah menjadi vampir dan berselingkuh dengan istri temannya.


Thirst merupakan film horor Korea yang ditangani oleh sutradara top Park Chan-wook. Meski dipenuhi unsur drama cinta terlarang, film ini masih dianggap berhasil menjadi tayangan non-mainstream yang membuatnya terhindar dari status Twilight versi Korea.

Daripada menarik simpati penonton untuk mendukung happy ending karakter utamanya, Thirst tak ragu menampilkan kesalahan demi kesalahan yang diperbuat oleh sang tokoh. Si pendeta memang digambarkan penuh kecacatan. Atas nama cinta, ia nekat melawan nilai-nilai moral yang selama ini dipeganganya. Konflik tersebut akhirnya berujung pada suatu 'penebusan dosa', suatu langkah konklusif yang dianggap memuaskan dan berhasil mengantarkan Thirst memenangkan Jury Prize di Festival Film Cannes 2009.


4. Hansel and Gretel (2007)

Hansel and Gretel film horor Korea

Premise cerita:
Kisah Hansel and Gretel dimulai ketika seorang pria bernama Eun-soo mengalami kecelakaan. Saat terbangun, ia bertemu dengan Young-hee, gadis cilik yang mengajaknya ke sebuah rumah di tengah hutan. Setelah bertemu dengan 'orang tua' dan saudara-saudara Young-hee, Eun-soo mulai merasakan berbagai keganjilan.

Selain upaya kabur yang entah mengapa selalu gagal, Eun-soo menemukan sisa-sisa tubuh manusia dan memergoki ritual aneh yang dilakukan anak-anak di rumah tersebut. Kengerian film ini semakin memuncak saat terungkap bahwa Young-hee dan saudara-saudaranya merupakan penghuni panti asuhan yang lahir puluhan tahun lalu...


Dongeng Hansel and Gretel memang telah lama diketahui memuat sisi brutal. Namun, adaptasi horor yang dihadirkan di film Korea Selatan ini disajikan dengan interpretasi yang lebih kompleks dan mencekam.

Konsep Hansel and Gretel sebenarnya cuma mendaur ulang berbagai teknik adaptasi yang pernah diaplikasikan pada dongeng-dongeng sejenis. Namun demikian, sinema arahan Yim Pil-sung ini tetap mendapat pengakuan karena keunggulan kualitas produksi dan berbagai plot twist yang berhasil menarik rasa penasaran penonton hingga akhir.


3. A Tale of Two Sisters (2003)

A Tale of Two Sisters

Premise cerita:
A Tale of Two Sisters sekilas mirip dongeng Cinderella versi horor. Padahal sebenarnya film ini diadaptasi dari legenda yang sudah beredar sejak zaman Joseon. Disutradarai oleh Kim Jee-won, sinema ini berkisah tentang Su-mi, seorang anak perempuan yang baru pulang dari sebuah rumah sakit jiwa. Bukannya disambut baik, ia malah berhadapan dengan sikap cuek sang ayah, perlakuan kasar ibu tirinya, dan nasib buruk sang adik perempuan yang diduga mengalami penganiayaan.

Kegilaan keluarga tersebut tak berhenti di situ, karena tak lama setelah kepulangan Su-mi, satu per satu rahasia gelap yang melibatkan kematian anggota keluarga lain mulai terungkap...


Film horor yang kebrutalannya sudah bisa dilihat dari posternya ini hampir tak pernah luput dari daftar film terbaik yang disusun oleh para pengamat. Yang membuat film ini berbeda dari tontonan horor kebanyakan adalah tema psikologis, penokohan solid, performa matang para aktor, dan plot twist yang disajikan dengan baik.

Diluncurkan pada tahun 2003, A Tale of Two Sisters telah menorehkan berbagai prestasi mengesankan. Selain menjadi film horor berpenghasilan terbesar di Korea Selatan hingga saat ini, sinema yang dibintangi Im Soo-jung (I'm Sorry, I Love You, Time Renegades) ini terpilih sebagai film Korea pertama yang ditayangkan di bioskop AS. Puncaknya, A Tale of Two Sisters berhasil memanen penghargaan di kancah lokal maupun internasional. Saat artikel ini ditulis, film ini masih mendapat rating 85% di Rotten Tomatoes dan mempertahankan skor 7.3/10 dari IMDb.


2. Train to Busan (2016)

Train to Busan

Premise cerita:
Diawali dari insiden kebocoran bahan kimia di suatu pabrik, efek keracunan yang membuat seseorang berubah menjadi semacam zombie pun menyebar luas dan menyebabkan kepanikan masal di seluruh negeri. Train to Busan membawa kita untuk mengikuti perjuangan sekelompok penumpang kereta api yang terjebak bersama para zombie tersebut. Seiring dengan mengalirnya alur cerita, terungkaplah jika keganasan para zombie sebenarnya tak sepadan dengan sifat egois manusia yang begitu mengerikan.


Daripada horor, film horor Korea yang menjadi fenomena di tahun 2016 ini sekilas lebih tepat dikatakan bergenre action thriller. Namun demikian, Train to Busan sebenarnya berhasil menghadirkan sisi horor lewat kengerian situasi post-apocalyptic yang dikemas serealistis mungkin.

Film ini berhasil memuncaki daftar film terlaris 2016 di Box Office Korea Selatan dan dikenal luas di berbagai negara, termasuk Indonesia. Selain karena tontonan action dan kisah survival yang mendebarkan di sepanjang film, Train to Busan banyak disukai karena pesan moral yang meghadirkan bobot lebih pada ceritanya. Hal ini pula-lah yang berhasil memikat para pengamat untuk memberikan rating positif terhadap Train to Busan. Saat artikel ini ditulis, film yang dibintangi Gong Yoo tersebut masih bertahan dengan skor 97% di Rotten Tomatoes, 7.5 di IMDb, dan 72% di Metacritic.


1. The Wailing (2016)

The Wailing

Premise cerita:
The Wailing menghadirkan misteri beberapa kematian masyarakat desa yang tewas mengenaskan. Beberapa penduduk kemudian mengaitkan insiden berantai tersebut dengan kedatangan orang asing yang berperilaku mencurigakan. Seorang polisi bernama Jong-goo awalnya tak percaya dengan tuduhan itu. Namun ketika sang putri jatuh sakit dan menunjukkan gejala serupa dengan korban-korban tewas yang telah berjatuhan, ia rela menempuh segala cara untuk memecahkan kutukan tersebut, mulai dari mendatangi rumah misterius si orang asing hingga melakukan ritual pengusiran setan.


Apa yang membuat The Wailing begitu sukses di Box Office Korea dan mendapat apresiasi tinggi adalah keberhasilannya dalam merangkai berbagai komponen menjadi tontonan yang solid. Sebagai film horor, The Wailing tentu saja kental akan unsur mistis. Namun demikian, film ini turut menampilkan lika-liku investigasi yang menarik. Kemasan The Wailing juga sarat akan nilai-nilai kepercayaan masyarakat lokal, serta keyakinan yang tercermin dalam ajaran beberapa agama.

Uniknya, berbagai komponen kepercayaan masyarakat Korea Selatan di film ini tidak jauh berbeda dengan fenomena supernatural yang bisa ditemukan di Indonesia. Hanya saja, The Wailing sanggup menampilkan budaya lokal sebagai instrumen penting dalam film horor yang 'berkelas', sebagaimana tercermin dalam atmosfir, akting pemain, hingga alur ceritanya. Na Hong-jin, sutradara sekaligus penulis film ini diakui begitu piawai meramu plot untuk memancing ketertarikan penonton hingga akhir.

Keberhasilan The Wailing sebagai film horor Korea terbaik bisa dibuktikan lewat prestasinya di daftar Box Office Korea 2016. Kualitas film ini juga sudah diakui oleh para pengamat di Rotten Tomatoes (99%), Metacritic (81), dan para pengguna IMDb (7.5).

Tujuh film horor Korea di atas merupakan rekomendasi untuk Anda yang menggemari film-film seram. Tak ada salahnya 'berselancar' ke negara lain untuk mencari pengalaman nonton film horor yang berbeda dari sinema barat ataupun Indonesia.

Jadi jika Anda tertarik, siapkan nyali dan selamat menonton!

Galuh Mustika

Penggemar film Barat yang doyan nonton segala genre, terutama petualangan dan fantasi. Pengagum karya-karya David Fincher, Christopher Nolan, Guillermo Del Toro, Steven Spielberg, dan Bong Joon-ho. Secara tak terduga juga suka perhatian sama drama dan film Korea. Hasilnya? Still try finding the best of both worlds.

Lihat profil selengkapnya






Artikel Lain
Review Film




Berita Popular




Review Pembaca
Ahmad Zai menulis "Dari ulasan awal yg ramai di media sosial, banyak fans setia Thor malah khawatir jika Feige dan Waititi akhirnya mengubah karakternya dari pewaris tahta Asgard yang heroik dan graceful menjadi badut pelawak."
Di Review Film Thor: Ragnarok >>
Anna Muttaqien menulis "Sebenarnya, pertama kali tertarik nonton Fireworks, a.k.a. Uchiage Hanabi, itu karena tertarik pada soundtrack-nya yang asyik banget dan animasi yang cakep setelah lihat trailernya."
Di Review Film Fireworks: Should We See It From The Side Or The Bottom? >>
Anna Muttaqien menulis "Sebelum berangkat nonton film No Game No Life Zero, ada baiknya sudah selesai menonton semua seri animenya serta sedia tisu dulu. Cerita dalam No Game No Life Zero akan terkesan dimulai secara mendadak jika penonton belum pernah lihat anime maupun membaca light novelnya."
Di Review Film No Game No Life Zero >>
Canopus menulis "Secara story, film ini mengingatkan saya pada film semacam Armageddon dan The Martian. Efeknya lumayan bagus. Menurut saya Geostorm lebih seru untuk ditonton dalam format 3D."
Di Review Film Geostorm >>